Sabtu, 14 November 2009

mata berbicara hati bergerak

Aku melihatnya lagi di sekolah. Hari ini dia terlihat memperhatikan ku yang sibuk menyeka air mata di depan ruang tata usaha sekolah. Sebelum ke ruangan ini, aku memang sempat menangis cukup lama, sehingga membuat mata ku merah dan sembap.

Entah apa yang dia pikirkaan sekarang saat melihatku seperti ini. Icha yang selalu gila dan tertawa keras-keras tanpa bisa di hentikan, tiba-tiba saja terlihat menangis, di sekolah pula. Kali ini dia masih menatap menyelidik ke arah ku. Apa sebegitu penasarannya dia? Ohh.. silahkan lah tertawa jika mau.

tapi tatapan yang dia berikan kian lama kian beruba h. Mungkin dia merubahnya menjadi rasa kasihan, tapi bukan masalah, aku tetap dan akan memohon untuk selalu melihat tatapan itu, selamanya. karena akan selalu ku nantikan.. Tatapan dia kini begitu menentramkan. Aku sampai hampir limbung dan kembali berteriak gembira jika tidak sadar akan situasi yang masih terjadi.

Arti dari tatapan itu seperti menyiratkan rasa tabah, menyiratkan dan memperkuat ku untuk selalu bertahan dan kuat. Tatapannya seakan berbicara pada ku, bahwa dia akan selalu menopang ku kapan pun. Tak peduli akan status dan waktu yang masih berjalan menolak kami, tapi dia tetap meyakinkan ku akan hal itu.
Kami yang selalu belajar dan berbicara satu sama lain dengan tatapan mata, membuat aku semakin mengerti bahwa hidup bukanlah kosong. Karena satu bukanlah satu, tapi satu.. bisa menjadi seribu. Saat itulah aku berfikir

“kapan kita akan bertemu lagi? sebentar lagi aku pergi” Tanya ku menusuk relung matanya

Sembari terus berbicara dalam bahsa diam, dia lirih menjawab

“perbedaan waktu bukanlah sesal yang bagus untuk di lampiaskan. Hidup ini tidak sendiri, cha. Berhentilah menangis dan hapus seluruh air mata mu itu. Karena dengan kau yang seperti ini saja, aku merasa diriku adalah yang terbodoh. Tidak bisa menenangkan gadis cilik cerewet yang ternyata cengeng di depan ku ini sekarang” seperti kiranya

Aku diam sejenak dan menyeka semua air mata sembari terus menatap dia, lalu tersenyum dan pergi begitu saja sampai hilang di tepi tangga. Sebelum pergi, tentunya aku sempat mengatakan kata-kata itu dahulu. Kata berpisah untuk bahagia. Berpisah untuk merasa duka dan saling merindukan di rentangnya jarak.

“jika saja bumi dan isinya ada tepat di tanganku kini, serta merta akan ku lepaskan untuk mendapat tatapan simpatik penuh kasihmu. Sungguh aku butuh semua yang kau beri kan. Takkan bisa aku berdiri sendiri lagi kini. Tapi kau.. telah mematikan saraf putus asaku dan terus beranjak mendekat, berusaha membopoh ku bangkit di alam yang suram. Kamu yang menguatkan aku dan terus terus berjuang menghentikan kegilaan ku. Aku bisa begitu, Karena kamu yang datang adalah kamu yang bersama jiwa mu yang selama ini lelah ku tunggu”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar